Investasi Emas?

Harapan ternyata masih ada. Dulu saya kira generasi ini (Milenial) sudah tidak punya harapan. Dari segi keuangan atau finansial. Karena saya lihat teman satu generasi saya tersebut setiap harinya cuma ngomongin hiburan. Film. Game. Musik. Plesir.

Tapi ternyata saya salah. Masih ada bunyi-bunyi halus yang melontarkan topik investasi di tengah pembicaraan ngalor-ngidul.

Seringnya topik yang muncul adalah emas. Investasi emas. Mungkin karena “investasi emas” merupakan prase termudah buat dicerna. Saham, rumit. Properti, mahal. Wirausaha, capek. Belajar, males. Padahal katanya (kata siapa ya..) investasi yang paling menguntungkan itu investasi leher ke atas. Iya, ilmu pengetahuan yang ada di kepala kita.

Lanjut soal emas. Sejak saya kenal logam mulia ini, sebenarnya saya enggak suka kalau uang ciptaan Allah ini disebut instrumen investasi.

Serius. Gold is not investment. Alasannya yaitu :

Harga Emas Enggak Selalu Naik

Entah sejak kapan mitos ini beredar. Seingat saya orang tua saya juga pernah cerita hal senada. Emas selalu naik. Padahal kalau kita buka catatan sejarah, harga emas awalnya stabil aja. Seperti sejatinya uang.

Harga emas baru mulai menanjak di tahun 70an. Tepatnya 1971 saat terjadi guncangan Nixon. Yang salah satunya, om Nixon secara sepihak menghapus konvertibilitas dollar Amerika Serikat ke emas. Hal ini bikin khalayak ramai panik dan serentak menukar dollar ke emas. Bank kehabisan emas. Harga emas meroket.

Pas yah? Para orang tua kita (generasi Baby Boomers) udah remaja tuh pasca tragedi di atas.

Enggak Ada Dividen

Ya iyalah. Emangnya saham!

Maksud saya, kalau mau dibandingkan dengan instrumen investasi lain. Atau model usaha lain. Emas enggak ngasih arus kas (cash flow) ke saku kita. Jadi saat kita menumpuk emas, doi cuma ter-onggok begitu saja. Enggak ada yang bisa dinikmati.

Bisnis kecil-kecilan aja punya laba yang bisa dirasakan, walau kadang cuma bisa ditukar satu-dua porsi sate Padang. Berkebun pun masih lebih menghibur. Minimal olahraga. Nyangkul.

Repot

Banyak kerepotan yang bakal kita temui ketika menimbun emas. Walau emas punya berat jenis yang tinggi. Yaitu 19.3 g/ml. Yang berarti ukuran atau volumenya kecil banget dibanding beratnya. Tetap saja kita bakal repot menyimpannya. Karena takut dimaling!

Menyimpan di SFD (Safe Deposit Box) juga bukan solusi ideal. Lah sudah enggak ada dividen, malah bayar sewa. Cash flow negatif jadinya.

😭

Kesimpulan?

Jadi jangan invest emas nih?

Saya juga gak punya jawaban-pasti-nya. Dan saya bukan konsultan keuangan. Jadi jangan telan mentah-mentah catatan kecil saya ini.

Tapi kalau kamu pengen diversifikasi. Kayaknya sah-sah aja beli emas. Jaga-jaga. Daripada dipake foya-foya. Tabung aja lah satu atau dua gram. Atau lebih.

Lebih parah lagi kalau disimpan di deposito. Mending dipake buat foya-foya.

🙄

Saya sendiri meyakini emas dan perak adalah uang ciptaan Tuhan. Syariat turun ke mereka. Jadi akan terus ada dan digunakan sampai manusia enggak butuh uang lagi. Kiamat?

Lain halnya dengan uang buatan manusia. Penuh ketidakpastian. Mudah dipermainkan. Dan hanya dijamin oleh makhluk lemah nan sulit dipercaya. Dari namanya saja sudah jelas. Mata uang mengambang bebas. Freely floating fiat currencies.

😏

Sebagai catatan tambahan. Ketika saya iseng cek portofolio Aurum saya di LibreOffice. Ternyata dah mayan cuan. Karena pasar saham sedang merah.

🤑

Sayangnya saya enggak rakus. Saya beli emas di even tertentu saja. Padahal kata mbah Buffet kita harus rakus saat orang ketakutan. Ya saat pasar saham ngeri-ngeri sedap gini biasanya orang lari ke emas.

Wah mulai keluar efek samping duit nih. Lagian ini kenapa jadi sering topik finan-sial? Udah ah.. Ingat Emas bukan investasi. Emas adalah uang.

Bonus

Uang buatan manusia vs uang buatan tuhan di dalam asam Nitrat :

Assalamualaykum!

😘

Referensi :

https://t.me/halamanbelakang

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Gold_as_an_investment#/media/File%3AGold-nominal-constant-usd.svg

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/18/Gold_spectrum_visible.png/800px-Gold_spectrum_visible.png

comments powered by Disqus