Jangan Simpan Duit di Bank

Saya udah pernah menulis kalau menyimpan uang di tanah jauh lebih menguntungkan daripada di bank. Tapi saya belum bosan buat satu kali lagi bilang adalah hal bodoh menaruh uang di bank. Bayangin aja, dengan bunga haram yang cuma 4% kita harus menghadapi inflasi 3.6%. Gak untung, apalagi kalau dihadapkan ke kenaikan biaya sekolah yang rajin banget naik sampai tembus 17%. (Kayaknya bakal calon hal bodoh di masa depan ini. Iya sekolah.)

Belum lagi kebobrokan sistem bank yang lain. Yang rasanya saya belum kapabel menguraikannya. Jadi kita lewati saja sementara ini.

Sebenarnya sih sedari saya merantau sebatang kara 2009 lampau, belum pernah (dalam waktu panjang) ada lebih dari 500rb besaran simpanan di rekening saya. Sampai detik ini. Jadi secara alami saya terlatih buat jauh dari dia. Bank maksudnya.

Baru setelah hutang rumah saya lunas bulan kemarin mulai terlihat pundi-pundi kecil di deposito. Yang bikin mata gatal melihatnya. Buat dibelanjakan ke sesuatu yang jauh lebih baik tentunya.

Barang yang sudah masyhur buat menjaga daya beli uang adalah emas. Ingat! Menjaga daya beli. Bukan judi berkedok investasi. Beli sewaktu murah. Jual saat mahal.

🙄

Tapi saya masih kurang srek ama barang ini. Masih banyak sisi dari emas yang terzalimi di negeri ini. Pajak misalnya. Disamping kurang likuid juga. Ya sebenarnya emas ini memang bagusnya bukan jadi barang melainkan jadi alat tukar langsung.

Singkat cerita barang yang saya manfaatkan buat menjaga nilai uang kali ini adalah tanaman. Hampir 1/2 uang THR tahun ini saya ubah menjadi Jaboticaba!

Terlihat seperti sedang mencari alasan dan pembenaran ya..

😅

Bilang aja mau khilaf beli tanaman!

😅

Tapi serius tanaman ini selain bisa menjaga bahkan menaikkan daya beli uang, kalau dipikir lebih dalam justru lebih berharga dari emas. Toh emas punya nilai “hanya” karena manusia kompak menganggap bahwa emas berharga. Bayangkan kalau tiba-tiba dunia ini jijik melihat warna kuning. Kalau lihat kuning-kuning langsung terbayang si tokai.

Jangankan beli dikasih aja enggak mau. Dan pasti terjun bebas harganya. Kita coba berimajinasi sekali lagi. Bayangkan kamu terdampar di pulau amat terpencil. Kemudian disuruh memilih 1 dari 2 peti besar harta. Yang satu berisi penuh emas. Yang lainnya penuh dengan pisang dan sebuah telepon satelit. Pasti milih pisang kan. Walau sama-sama mirip.

Kalau saya sih minta setengah-setengah aja dari isi kedua peti tadi.

🤑

Bosen juga gilak makan pisang satu peti.

Toh kalau terjadi hal tak terduga, konon tokai masih punya banyak nutrisi.

OK. Sampai ketemu lagi. Jangan terlalu mesra dengan bank. Apalagi pegawainya. Kecuali dinikahi dulu. Jangan lupa suruh resign. Jangan lupa target Ramadhannya. Dah mau abis ini. Semangat. Kejar terus. Pepet abis. Selalu jauhi hutang. Apalagi riba. Dan sukses selalu.

👊

Assalamualaykum!

😘

Referensi

https://t.me/halamanbelakang/677

comments powered by Disqus