Nikah Pas

2017.07.09 00:00

Blog

Lagi-lagi terpaksa saya menulis sesuatu yang lebih besar dari sang diri. Di luar kapasitas. Soal nikah.

Beberapa kali baik oleh teman yang saya kenal ataupun teman yang saya tidak kenal saya ditanya soal “nikah”. Mungkin karena bagi mereka saya menikah muda. Padahal bagi saya 21 tahun (hampir) yaitu usia saya menikah adalah usia pas. Gak terlalu cepat pun lambat. Tapi itu 7 tahun lalu. Sekarang, 7 tahun kemudian kiranya sudah tidak relevan. Harus dipercepat lagi. Kenapa? Karena zaman makin edan. Akhlak dalam bergaul makin rusak.

Matang Emosional vs Matang Biologikal

Di zaman serba instan ini. Manusia pun ikut matang secara instan. Mungkin karena kebanyakan makan mie instan. Becanda. Sayangnya hanya pada sisi biologisnya. Anak laki-laki lebih cepat mendapat “mimpi dewasanya”. Yang perempuan pun begitu, pertumbuhan seks sekunder mereka seperti kejar setoran. Bila kita perhatikan banyak anak SD yang sudah “harus memakai bra”. Malah banyak diantaranya sudah terlihat “cantik”. Oke oke. Jangan berpikir macam-macam. Dan ini bukan kata saya melainkan kata science.

Sayangnya cepatnya kematangan biologis ini malah diimbangi secara terbalik oleh kematangan mental/emosional mereka. Beberapa saat lalu saat mengikuti kajian Ust. Bendri, beliau mengatakan “usia mental” anak zaman sekarang hanya setengah “usia biologisnya”. Jadi semisal usia anak menurut ktp 18 tahun. Usia mentalnya paling-paling 9 tahun!

😨

Di sini lah peran dan pentingnya memprioritaskan menikah. Karena, masih menurut beliau, bukan menurut saya yang dhoif, pernikahan adalah sarana yang baik untuk mengakselerasi kedewasaan yang terlanjur tertinggal.

Jadi buat orang tua, jika kita sanggup mengeluarkan ratusan juta rupiah buat menyekolahkan mereka ke sekolah konvensional. Kenapa enggak meminjamkan satu ratusan lagi buat menyekolahkan mereka ke sekolah bernama pernikahan?

Buat kehidupan mereka tentunya. Bukan buat sombong bikin pesta mewah.

🙄

Allah SWT berfirman:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur 24: Ayat 32)

Menikah Melancarkan Rezeki (?)

Jujur awalnya saya sendiri skeptikal pada poin ini. Rasionalitas saya bilang itu karena sang suami “terpaksa” banting tulang demi menghidupi anak dan istrinya. Karena saya dididik bagaimana bakunya “equivalent exchange”. Buat mendapatkan sesuatu hal harus mengorbankan hal lainnya. Nyatanya hidup enggak sesederhana itu. Banyak faktor yang tidak terduga terjadi secara rahasia.

Contoh kasus yang saya alami sendiri. Saya sebagai orang gajian kiranya mustahil dapet gaji lebih besar dari karyawan lain yang segolongan. Mau status menikah ataupun jomblo harusnya gaji enggak beda jauh. Sesuai ketentuan perusahaan. Titik segede kelapa.

Ternyata saya salah. Pendapatan saya dari tempat saya bekerja lebih besar setidaknya 20jt rupiah ketimbang yang jomblo.

Kok bisa?

Ini karena ketika istri melahirkan anak pertama “terpaksa” harus lewat operasi caesar karena anak pertama saya anti mainstream, bukannya memposisikan diri ke jalur keluar alias kepala di bawah, dia malah posisi duduk.

😂

Bukan bahan tertawaan sebenarnya. Ya. Singkat cerita perusahaan menanggung semua biaya persalinan. Saya “untung” 20jt ketimbang rekan kerja saya yang ditakdirkan Allah belum ketemu jodohnya. Itu belum lagi biaya kontrol ke dokter kandungan sebelum dan sesudah melahirkan, pun dokter anak, yang keduanya paling murah 200 ribuan per ngobrol doang atau bahasa mereka konsultasi.

Belum lagi 1,5 tahun kemudian saya diamanahi anak kedua yang juga harus melalui caesar. Jadi 40jt. Terima kasih perusahaan tempat saya bekerja. Semoga jaya. Dijauhkan dari karyawan bodoh dan membodohi.

Kurang greget? Toh yang jomblo juga nanti nikah dan punya anak? Jadi sama aja.

Siapa yang jamin?

😎

Oke. Kalau masih kurang, berikut satu lagi contoh yang juga pengalaman pribadi.

Setelah mengajukan proposal menikah ke ayah saya. Ini merupakan salah satu obrolan terberat dalam hidup. Semenjak itu keberanian saya banyak meningkat dalam hal berbicara pada orang lain. Saya adalah introvert, kalau enggak mendesak saya gak ngomong. Ada masalah, kalau enggak menyoal hidup dan mati saya pikir seribu kali buat bagi ke orang lain. Benar adanya menikah merupakan booster kedewasaan. Baru ngajuin proposal aja udah segitu manfaatnya bagi mental.

Baik. Setelah mengajukan proposal, ayah saya menyarankan agar membeli rumah. Sebenarnya saya berat hati. Enggak mau nyusahin orang tua lebih dari ini. Tapi dengan tekat mengembalikan semua dalam waktu 5 tahun saya iyakan kemudian pulang ke Palembang (orang tua saya di Bogor) buat berkelana melanglang buana mencari rumah. Enggak gampang, beberapa dari pemilik rumah menanggapi kurang serius, mungkin karena saya baby face. Pasti berat sih bayangkan ada pemuda 20 tahunan bawa motor MX datang menawar rumah.

😂

Akhirnya saya pun mengajak teman kerja yang lebih senior (makasih pak) buat berburu. Dari orang yang enggak pernah keluar kamar tiba-tiba saya jadi pengelana.

Singkat cerita dapat lah rumah sederhana yang saya dan keluarga kecil saya tinggali sampai sekarang. Waktu itu harganya 182jt yang 5 tahun kemudian sudah jadi 275jt. Wow! Saya untung 93jt. Seandainya saya menunda menikah dari umur 20 ke 25 rezeki saya seret sebesar 93jt!

Masih skeptis? Ya itu hanya yang ber-angka besar. Yang kecil dan sering terlupakan pasti lebih banyak, yang kalau kita telusuri baru kita sadar telah kufur akan nikmat-Nya.

Hmm.. Sepertinya cukup, banyak bicara banyak dosa, apalagi ini dapat diakses dengan pengunjung tanpa batas.

Selamat mengajukan proposal!

👊

Referensi

https://almanhaj.or.id/3359-perintah-untuk-menikahkan-orang-yang-sendirian-tanpa-pasangan.html

https://t.me/halamanbelakang