Belajar Jadi Orang Tua di Sekolah Alam

2018.10.10 00:00

Blog

Sekitar 3 bulan lalu saya dan istri menemani HilMa (akronim nama dua anak saya) ke “Little Farmer” yang diselenggarakan oleh Sekolah Alam Indonesia Palembang. Yaitu petualangan sehari menjadi siswa sekolah alam.

Niatnya buat mengenalkan dunia sekolah ke si Kakak. Biar nanti gak terlalu kaget. Karena 1 tahun lagi si Kakak sudah masuk usia sekolah.

Tapi seperti biasa yang belajar justru malah saya sendiri. Ini adalah kali pertama saya merasakan bagaimana mengantar anak sekolah. Bagaimana mengenalkan anak apa itu sekolah. Instruktur/gurunya. Temannya.

Arrrghh..

Lagi-lagi mana manualnya? Dulu enggak ada yang ngajarin “menikah”. Terus gak ada yang melatih “jadi ayah”. Sekarang “menyekolahkan anak” pula. Gimana nanti “melepas mereka ke pesantren”. Nulisnya aja kepala langsung berasa hipotermia.

😔

...

Sekolah dimulai pukul 8.00. Seperti biasa kami naik taksi online karena belum sanggup beli mobil. HilMa terlihat semangat sedari pagi. Tapi sampai di lokasi si Kakak terlihat mulai butuh adaptasi. Banyak orang yang asing buat dia.

Dua puluh menit sepertinya belum cukup buat Kakak beradaptasi dengan lingkungan. Orang tua anak lain, instruktur, dan teman-teman sekolahnya. Tepat pukul 08.00 instruktur sekolah alam meminta anak-anak berbaris. Mayoritas anak-anak menurut. Kecuali beberapa termasuk si Kakak.

😰

Haduh..

Terpaksa saya ikut baris juga bias si Kakak mau.

Kemudian dengan riangnya sang instruktur bilang “adek-adek, rentangkan tangan, kita senam”. Oke saya nyerah. Ini sih saya juga gak mau.

😳

Duh saya orang tua yang buruk..

😭

Dalam kepala saya “ini sih terpaksa eksekusi plan B”. Singkatnya ini awal yang mengkhawatirkan.

Selesai senam, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Kakak masuk ke kelompok hijau yang arenanya adalah "flying fox". Lah langsung final boss.

😭

Baris aja belum mau. Apalagi disuruh flying fox.

😭

Es krim 3 biji + sarang burung (nama minuman ringan yg laris di sini) dan entah apalagi yang saya iming-imingi gak laku. Si Kakak enggak mau.

Kami pun cuma menonton sampai kelompok kami selesai dan lanjut ke arena berikutnya. Menangkap ikan. Di sini si Kakak agak menikmati permainannya, bahkan Adiknya juga ikutan, padahal enggak bayar tiket. Terlihat moodnya juga mulai membaik. Pun saya.

Tantangan berikutnya yaitu jembatan gantung. Tantangan paling menantang ke-2. Si Kakak juga kelihatannya mau.

Makasih ikan.

Tapi sewaktu mengantri giliran, saya perhatikan si Kakak sesekali melirik ke arena flying fox, melihat kelompok lain yang sedang bermain di sana. Kemudian saya iseng bilang “kakak mau? meluncur?”. Dan kagetnya saya dia bilang “mau”.

Makasih ikan (2).

Wahana yang lain gak jauh dari kegiatan sehari-hari HilMa di @halamanbelakang.

😉

Singkat cerita lumayan lah. Efeknya pun positif, HilMa jadi tambah berani yang paling jelas terlihat. Alhamdulillah..

👊

Assalamualaykum!

Referensi :

https://t.me/halamanbelakang